breaking news New

Dodol Betawi Makanan Wajib Pesta Betawi

Dodol betawi selalu hadir pada setiap acara bagi masyarakat asli Betawi. Contohnya seperti menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dodol betawi berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa yang lebih sedikit daripada dodol dari daerah lain. Dodol Betawi memiliki ciri khas dari cita rasa dan proses pembuatannya. Warna coklat pekat dengan rasa manis dari perpaduan gula merah, gula putih, santan dan ketan membuat makanan ini memiliki rasa dan tekstur yang unik.

Bahan-bahan yang digunakan cukup mudah ditemui, hanya saja alat-alat yang digunakan untuk membuat dodol Betawi asli menggunakan alat-alat tradisional, seperti tungku, kuali besar, kayu bakar, dan spatula kayu besar (gelo). Proses pembuatan juga termasuk lama dan memakan banyak waktu dan tenaga.

Dilihat dari pembuatan dodol, ternyata tersirat makna sosial. Karena begitu sulit dalam membuat dodol, maka semangat gotong royong, keriangan dan semangat persaudaraan diperlukan dalam pembuatannya. Maka tak heran masyarakat Betawi begitu menganggap pembuatan dodol Betawi merupakan kerja tim dan bertujuan mempererat tali persaudaraan.

Dahulu, dalam pembuatan dodol Betawi dilakukan secara patungan ketika mendekati hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Keluarga besar Betawi yang dulunya hidup berdekatan, saling melengkapi bahan dasar pembuatan dodol. Begitu bahan tersedia, para pria bertugas membuat dodol Betawi dan mengaduk adonan. Sedangkan para wanitanya menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan. Sambil menunggu dodol matang, ibu-ibu menyiapkan makan berbuka puasa, setelah matang, langsung dibagi secara adil berdasarkan seberapa besar keluarga memberikan `uang` dodol. Ini adalah sekelumit cara pembuatan dodol zaman dulu.

Sampai saat ini, orang yang memproduksi dodol Betawi terbilang sangat sedikit. Hal ini mungkin terjadi karena tergeser oleh makanan-makanan modern dan juga proses pembuatan dodol yang memang tidak mudah serta membutuhkan keahlian agar dapat mencapai cita rasa yang khas.

Terdapat beberapa daerah di Jakarta dan sekitarnya yang masih memproduksi dodol betawi, terutama di komunitas-komunitas warga Betawi, seperti di Condet, Jakarta Timur, Bogor dan Bekasi. Selain warga Betawi, dodol betawi juga dibuat oleh komunitas Tionghoa.