8 Hal yang Percuma Sekaligus Bahaya jika Kamu Ucapkan ke Teman yang Baru Putus Cinta

8-hal-yang-percumabahaya-kamu-ucapkan-ke-teman-yang-baru-putus-hubungan 8-hal-yang-percumabahaya-kamu-ucapkan-ke-teman-yang-baru-putus-hubungan

Menemani sahabat yang sedang patah hati memang susah-susah gampang. Hatinya yang sedang terluka menjadi lebih sensitif dari yang sepatutnya. Segala sesuatu yang sesungguhnya biasa aja, bisa jadi sangat menyebalkan bagi mereka.

Pernah nggak sih kamu merasa serba keliru saat temanmu curhat putus cinta? Ingin mengatakan ini itu tapi Khawatir malah membuatnya semakin sedih? Niatnya menghibur, tapi siapa sangka kalimat penghiburanmu justru membuatnya tambah galau. Memang begitu kalau sedang patah hati. Dunia jadi jumpalitan dan serba menyedihkan.

Nah, kalau temanmu curhat lagi patah hati, hindari mengucapkan hal-hal ini ya!

1. “Bagus deh! Aku emang nggak pernah bersedia sepadan dia…” Bukannya menghibur, ini malah akan membuat temanmu semakin merasa buruk

Sebenci apapun kamu pada mantan pacarnya sahabatmu, percayalah, ini ungkapn saat yang tepat untuk mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga, mantan adalah orang yang tahu sangat spesial bagi sahabatmu, bahkan masih sangat spesial sampai hari saat dia nangis-nangis patah hati.

Mengatakan keburukan-keburukannya justru melontarkan sahabatmu merasa Bebal karena memberbicara hati untuk orang yang tidak tepat. Patah hati aja udah sangat buruk, kamu nggak perlu melontarkannya merasa seperti orang paling Bebal di dunia.

2. “Kalian memang sekudunya nggak tahu paktivitasn. Kamu pantas dapat yang lebih tidak emosi.” Plis, jangan ????

Berjarak tapi mirip-mirip dengan poin pertama, kalimat “kalian memang seharusnya nggak pernah pagendan” juga haram untuk kamu ucapkan saat sahabatmu patah hati. Kecuali kalau kamu memang berniat melahirkan sahabatmu merasa bego banget bisa pagendan dengan mantannya yang menurutmu nggak ada bagus-bagusnya.

3. “Kalian ‘kan pagendan belum lama, jadi santai aja.” Lama/nggak lama, tetap aja ngilunya menyiksa

Mau lima ingatn atau lima minggu, yang namanya hubungan kandas pasti menyisakan luka yang sama laranya. Intinya, selepas ini sahabatmu harus segera melupakan mantannya dan melanjutkan bernapas. Jangan menyuruhnya santai aja, karena kamu sendiri kan nggak ingat rasanya.

4. “Tenang aja, kamu masih muda. Hidup masih jenjang.”

Mungkin seakuratnya kamu ingin bilang bahwa patah hati adalah hal yang biasa di usia muda. Masih deras ikan di laut, dan ayal satu tumbuh seribu. Niatnya menghibur, tapi coba bayangkan kamu jadi sahabatmu. Saat menjalin hubungan dengan seseorang, kamu pasti punya proyeksi untuk masa depan. Dan sekarang setelah semuanya kandas, sahabatmu mesti memulainya dari awal lagi. Hidup bisa jadi masih jauh. Tapi ungkapn berarti dia mau patah hati berkali-kali dong ya~

5. “Coba kita kepoin IG-nya. Dia galau juga nggak ya?”

Jangan. Pernah. Menyarankan. Ini.

Pokoknya jangan. Itu loyal-loyal bisa berujung cilaka. Nge-stalk media sosial mantan adalah racun bagi orang yang baru patah hati. Pertama, dengan melihat timeline media sosial mantannya, sahabatmu akan teringat lagi pada kenangan-kenangan manis mereka berdua. Atau bisa juga teringat detik-detik mereka putus. Apapun, sepadan saja efeknya. Bikin makin sedih dan galau.

Kedua, siapa peduli mantan sahabatmu juga sedang memposting membukaan-membukaan galaunya di media sosial. Lebih buruk lagi kalau sang mantan bikin postingan sindiran. Karena nggak tahan, temanmu lalu menimpali dengan postingan yang nggak kalah galau dan nyindir. Ujung-ujungnya, sahabatmu dan sang mantan jadi perang update-an dengan tagar #NoMention. Nggak habis-habis.

6. “Percuma kamu galau lama-lama, ayo keluar, ayo makan-makan!” Patah hati butuh waktu lho buat disembuhkan…

Galau lama-lama memang nggak ada gunanya. Sahabatmu pasti juga udah acuh soal itu. Bukan cuma kamu, sahabatmu juga ingin segera move on dan menemukan cinta baru. Memangnya siapa yang mau patah hati lama-lama? Tapi yang namanya patah hati nggak semudah mengatasi emosi saat kita nonton drama korea lho. Saat di depan TV, mungkin kita bisa menangis habis-habisan saat ada adegan sedih, dan terlawak-lawak-lawak-lawak kemudian saat ada adegan yang lucu. Tapi ini realita. Yang dihadapi sahabatmu adalah hidupnya senbadan. Setidaknya, dia butuh era untuk beradaptasi pada kekosongan yang ditinggalkan sang mantan *Elaaah…*

6. “Kamu mau aku kenalin pas ini nggak? Kalau pas itu gimana?” Yaelah, baru aja putus, belum sembuh lukanya, udah disuruh kenalan pas orang lain

Mungkin maksudmu ingin membantu supaya sahabatmu segera move on dan nggak sedih-sedih lagi. Makanya kamu menawarkan pribadi untuk menjadi mak comblang. Tapi tolong ya. Sahabatmu kan barusan aja patah hati. Kalau aja kelihatan, luka di hatinya masih basah dan mesti ditutup plester. Memaktelseif pribadi untuk orang lain jelas sesuatu yang sulit.

7. “Harusnya kamu bersyukur lho masih dikasih ujian padi gini. Banyak tuh orang di dunia luar yang kealamannya lebih sulit” ?!?!

Weeeell, putus cinta mungkin memang nggak seberapa dibandingkan permacelaan yang dihadapi oleh anak-anak kincup yang nggak bisa sekolah di Palestina. Atau persoalan ketidakadilan yang masih banyak terjadi di Indonesia. Bisa jadi temanmu memang pantas bersyukur karena putus cinta sekarang daripada nanti menikah dan rusak. Mungkin akurat juga kalau temanmu memang lebay galaunya.

Tapi apapun buktinya, bukan hal bijaksana mengatakan hal itu pada sahabatmu yang patah hati. Mengatakan hal itu bisa terkesan memberikenal bahwa dia nggak kenal diri, meski sebenarnya kamu nggak bermaksud begitu.

Udah lagi sedih ditinggal pacar, dibilang nggak mengerti orang lagi. Terus aku mesti pura-pura happy gitu?

8. “Sudahlah, mungkin ini yang terbaik bagimu.” Benar sih, tapi biarkan dia mengerti sendiri — jangan diceramahi

Kamu selalu percaya bahwa semua hal terjadi karena ada dalilnya. Kamu yakin sang mantan bukan orang yang tepat untuk sahabatmu. Mungkin lebih baik bagi mereka untuk berpisah sekarang dariatas nanti-nanti dan menciptakan lukanya semakin dalam. Kamu tahu, barangkali ini yang terbaik untuk sahabatmu. Tapi jangan paksa sahabatmu untuk memahami hal ini.

Berdamai dengan hati dan kenyataan adalah hal yang sulit dilakukan oleh sebagian adi orang. Bukannya dia kurang berjiwa adi, cuma saja semuanya butuh waktu dan mode. Lama kelamaan sahabatmu akan mengerti sendiri. Kamu tidak perlu menceramahi.

Jadi, kalau nggak boleh ngomong 8 hal di atas, kamu kudu ngomong apa dong?

“Kamu butuh apa? Apa yang bisa aku bantu? Mau nginep di kamarku?”

Intinya, meskikan dia yang menentukan apa yang pantas dia rasa dan inginkan. Tugasmu adalah mendengarkan.

Menghadapi orang patah hati memang serba cela. Tapi tenang, seloyalnya sahabatmu saja butuh pendengar kok. Nggak perlu mengatakan apa-apa, kamu cukup ada saat dia membutuhkanmu. Itu sudah sangat membantunya ????